Berita  

Ribuan Siswa Terdampak Pemadaman Listrik Saat Ujian Nasional

Gelapnya Ujian, Beratnya Asa: Ribuan Siswa Terjebak Pemadaman Listrik Saat Penentuan Kelulusan

Ujian Nasional (UN) atau sejenisnya selalu menjadi momen krusial bagi ribuan siswa di seluruh Indonesia. Ini adalah puncak dari bertahun-tahun belajar, perjuangan, dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Ketegangan, konsentrasi penuh, dan persiapan matang adalah hal lumrah yang menyelimuti setiap ruang ujian. Namun, bayangkan jika di tengah momen penentuan ini, tiba-tiba kegelapan menyelimuti. Bukan metafora, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh ribuan siswa: pemadaman listrik saat ujian berlangsung.

Ketika Ruang Ujian Dilanda Kegelapan Mendadak

Pemandangan itu terekam jelas di benak para siswa dan pengawas: di tengah kesunyian yang hanya diisi suara pena menggores kertas atau klik keyboard, mendadak seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Lampu padam, komputer mati, dan proyektor yang menampilkan soal pun ikut berhenti bekerja. Seketika, kepanikan kecil pecah. Bisikan-bisikan, suara bangku bergeser, dan upaya guru mencari lilin atau lampu darurat mengisi kekosongan.

Bagi siswa yang mengerjakan ujian berbasis komputer (CBT), pemadaman listrik berarti layar kosong yang menatap mereka balik, menghapus jejak jawaban yang mungkin belum sempat tersimpan. Bagi mereka yang ujian berbasis kertas, kondisi gelap memaksa mereka menyipitkan mata, mendekatkan lembar soal ke cahaya minim dari senter ponsel atau lilin seadanya, berusaha mengeja setiap huruf dan angka yang kabur. Ini bukan hanya mengganggu, melainkan memporakporandakan konsentrasi yang telah dibangun dengan susah payah.

Beban Ganda: Melawan Soal dan Kegelapan

Dampak paling terasa dari insiden ini bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada mental dan psikologis para peserta ujian. Bulan-bulan, bahkan tahun-tahun, persiapan keras mendadak terasa sia-sia ketika kondisi ujian menjadi tidak ideal. Konsentrasi buyar, adrenalin melonjak karena frustrasi, dan rasa cemas akan waktu yang terus berjalan dalam kondisi serba terbatas. Bagaimana mungkin seorang siswa bisa berpikir jernih tentang rumus-rumus kompleks atau analisis teks yang mendalam, ketika ia harus berjuang hanya untuk melihat soal di depannya?

Insiden pemadaman listrik ini juga menimbulkan pertanyaan besar tentang keadilan dan kesetaraan. Apakah siswa di daerah yang mengalami pemadaman listrik memiliki kesempatan yang sama dengan siswa di daerah lain yang tidak terganggu? Bagaimana dengan validitas hasil ujian yang diambil di bawah tekanan dan kondisi yang jauh dari standar? Rasa ketidakadilan ini bisa membekas dan mempengaruhi motivasi siswa di masa depan.

Upaya Mitigasi yang Sering Terasa Tambal Sulam

Pihak sekolah dan panitia ujian tentu tidak tinggal diam. Berbagai upaya mitigasi dilakukan, mulai dari memperpanjang waktu ujian, bergegas mencari genset atau lampu darurat, hingga menjadwalkan ulang ujian jika kondisi sangat tidak memungkinkan. Namun, upaya ini seringkali terasa seperti tambal sulam. Perpanjangan waktu mungkin membantu, tetapi tidak dapat mengembalikan konsentrasi yang sudah buyar atau mengurangi stres yang telanjur menumpuk. Penjadwalan ulang pun berarti beban pikiran tambahan bagi siswa, dan belum tentu menjamin kondisi yang lebih baik.

Pelajaran Berharga untuk Masa Depan Pendidikan

Insiden ribuan siswa terdampak pemadaman listrik saat ujian nasional adalah pengingat pahit tentang kerapuhan infrastruktur dasar dan dampaknya terhadap sektor pendidikan yang vital. Ini bukan sekadar gangguan teknis sesaat, melainkan sebuah cerminan tentang betapa pentingnya memastikan lingkungan yang kondusif dan stabil bagi proses pendidikan dan evaluasi.

Pemerintah, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan perlu duduk bersama untuk merancang strategi mitigasi yang lebih komprehensif. Ini mencakup penyediaan pasokan listrik yang stabil, rencana darurat yang efektif di setiap sekolah (termasuk genset yang berfungsi baik), serta protokol komunikasi yang jelas saat terjadi insiden.

Ribuan siswa ini bukan hanya berjuang dengan soal-soal sulit, tetapi juga dengan kondisi tak terduga yang menguji ketahanan mental mereka. Asa mereka, masa depan mereka, sedikit banyak dipertaruhkan dalam kondisi gelap yang tak terduga itu. Semoga insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih serius dalam menjamin hak setiap anak bangsa mendapatkan pendidikan dan evaluasi yang adil, di bawah terang benderang harapan, bukan bayang-bayang kegelapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *